Ayah… jangan biarkan Ibu menangis…

menangis1Di dalam sebuah keluarga ayah adalah seorang “manager” sedangkan ibu berfungsi sebagai “peran utama”nya.

Seorang ibu dengan segala kasih sayang dan perhatiannya berusaha “me-manage” agar tercipta suasana keluarga yang berbahagia di dunia dan di akhirat… baiti jannati…

Dengan “kepekaannya” seorang ibu tahu sifat / karakter anak-anaknya, karena beliau dengan “rasa”nya dapat menilai sedetil-detilnya sifat/karakter anak dan suaminya.

Kalau seorang ibu belum dapat merubah suatu kondisi tertentu yang “urgent” bukan berarti beliau tidak bertanggung jawab atau tidak melakukan tugas-tugasnya tapi karena lebih memikirkan “sesuatu” (seperti yang pernah ayah jelaskan tentang “Chaos Theory”).

Jadi ibu mohon… sebagai seorang manager… ayah tidak hanya berfungsi sebagai seorang “controlling” tapi ibu minta ayah “terjun langsung”  dan berdiskusi secara baik-baik… “do the best”

Boleh saja ayah mendengarkan kata-kata yang diucapkan oleh anak-anak kita… tetapi mereka masih anak-anak… yang pola berpikirnya berbeda dengan kita…

Berjanjilah pada ibu… ayah akan selalu mempercayai ibu…

Ibu memohon sekali lagi… jangan biarkan ibu menangis…

 

***********

Keluarga adalah salah satu contoh terkecil dari suatu organisasi… tulisan ini aku tulis untuk memperingati Dies Natalis UB yang ke 51

Medio, 5 Januari 2014

 

Ibu

ibuIbu adalah sumber inspirasiku… dari tangan beliau anak-anaknya tumbuh dan berkembang. Beliau sangat berwibawa sekali, jarang sekali berbicara yang tidak bermakna…ucapannya mengalir seperti air jika memberikan nasehat. Hal-hal yang diucapkan selalu baik… Kalau tidak tahu, beliau diam dan tidak pernah berbohong…

Cara “unique” di pagi hari untuk  membangunkan seisi keluarga adalah dengan menyetelkan televisi acara “Kuliah Subuh”.  Ceramah agama Islam selalu kami dengarkan pertama kali setiap bangun tidur. Saya suka sekali mendengar penceramah (kala itu) KH. Muhammad ‘Imaduddin AR, KH. Mawardy Labay, KH. Anwar Sanusi, Yusril Ihza Mahendra, KH. Mahfud MD, Hj. Lutfiah Sungkar, KH. Syafii Antonio, dll

Kalau menasehati anak-anaknya, beliau sambil meneteskan air mata… dan meminta maaf pada anak-anaknya kalau ada hal yang salah. Sangat mengena di sanubari. Tanpa berkata-kata dengan melakukan contoh perbuatan yang baik, itu merupakan suri teladan bagi kami anak-anaknya.

Sekarang beliau sudah meninggal dunia, tidak terdengar lagi nasehat-nasehatnya… tapi lewat orang-orang yang “berarti” nasehat-nasehatnya selalu terdengar. “Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran”

Wanita

petinjuPagi tadi disepanjang jalan menuju kampus saya terinspirasi melihat gambar poster wanita yang lengkap dengan sarung tinju…bersiap-siap untuk bermain tinju…terlintas di benak saya…apa yang dicari wanita itu sehingga “rela”  meninggalkan sisi feminisnya…

Padahal bermain /olahraga tinju pasti sangat menyakitkan jiwa dan raga wanita itu…karena Allah SWT menciptakan wanita dengan segala kasih sayang dan kelemah lembutannya…untuk mengayomi anak-anak serta mencintai keluarga.

Penerapan emansipasi wanita dalam kehidupan kita yang sesungguhnya yaitu hendaknya menempatkan posisi dengan sebenar-benarnya, bolehlah kita sebagai wanita merasa bisa mandiri atau bahkan merasa bisa mengungguli pria … tapi ingat ada satu tugas mulia yang tidak boleh kita lupakan yaitu peran kita sebagai seorang ibu dan istri haruslah diutamakan. Wanita adalah tiang bagi pondasi keutuhan rumahtangga,  dan juga guru bagi anak-anak bila kita salah dalam memposisikan emansipasi wanita dalam diri kita maka hancurlah tatanan yang ada di rumahtangga .

Selamat menyambut Hari Wanita Sedunia…8 Maret 2013…

Ibu

Saat makan, bila makanan terbatas. Ia akan memberikan makanan itu kepada putra putrinya dan berkata, “Cepatlah makan nak, Ibu tidak lapar.”

Ia sisihkan ikan dan daging untuk putra putrinya dan berkata, “Ibu tidak suka daging, makanlah, nak.”

Di tengah malam saat dia sedang menjaga putra putrinya yang sakit, Ia berkata, “Istirahatlah nak, Ibu masih belum mengantuk.”

Saat putra putrinya sudah tamat belajar, bekerja, mengirimkan uang untuk sang Ibu. Ia berkata, “Simpanlah untuk keperluanmu nak, Ibu masih punya uang.”

Saat putra putrinya telah sukses, menjemput Ibunya untuk tinggal di rumah besar, Ia lantas berkata, “Rumah tua kita disini masih sangat nyaman, Ibu tidak terbiasa tinggal di sana nak.” Continue reading