Perlukah bersikap Over Protective terhadap anak ?

overSebagai seorang ibu, anak-anaknya adalah tempat curahan hati dan jiwanya. Karena sejak masa didalam kandungan,  seorang ibu sudah berkomunikasi lewat kasih sayangnya. Jadi jangan heran… jika seorang ibu tahu apa yang sedang dialami atau dirasakan anak-anaknya walaupun tanpa “berkata-kata”. Karena kuatnya “ikatan batin” antara ibu dan anak yang semakin hari selalu terasah lewat komunikasi diantara mereka.

Seorang  ibu yang bekerja yang tidak setiap hari dapat mendampingi dan mengawasi buah hatinya secara “kuantitas” terkadang ada sedikit perasaan khawatir yang berlebihan akan keadaan anak-anaknya. Juga karena pengaruh “riwayat” kesehatan dari masing-masing anak yang berbeda-beda. Kalau ibu saya dahulu… mengapa begitu mengkhawatirkan putrinya (saya), karena pada saat dilahirkan usianya belum cukup (prematur /7 bulan) menurut penuturan beliau besarnya hanya seperti botol sirup… kecil sekali dan harus di “inkubator”. Jadi beliau sangat “over protective”.

Saat ini saya berusaha tidak bersikap “over protective”, walaupun ada rasa khawatir tapi tidak terlalu berlebihan karena saya menginginkan  anak-anak saya terdidik secara alami… kesehatannya… kedewasaannya… tanggung jawabnya…. hanya perlu ditunjukkan apa-apa yang menjadi “konsekwensi” jika berbuat sesuatu…

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kami sekeluarga rahmat dan cinta kasihNYA sehingga keluarga kecil kami selalu berkecukupan rasa puasnya terhadap hal-hal yang bersifat “materiil ataupun non materiil”… Karena rasa kepuasan itu tolok ukurnya adalah diri sendiri  dan diri kita sendiri yang dapat membatasinya… sesuai dengan kemampuan yang ada. Karena tidak ada kebahagiaan haqiqi jika kita tidak berbagi…

Harapan kami, meskipun setiap hari ditinggal orangtuanya bekerja… anak-anak kami tetap terjaga serta mendapat limpahan kasih sayang dari lingkungannya… serta selalu dalam pengawasan dan penjagaanNYA yang Maha Agung… Allah SWT. Aamiin…

Cinta

rose28Cinta adalah kekuatan yang mampu…                                                                           mengubah duri jadi mawar,
mengubah cuka jadi anggur,
mengubah sedih jadi riang,
mengubah amarah jadi ramah,
mengubah musibah jadi muhibah.

Cinta terbesar dan cinta hakiki ialah cinta kepada Allah SWT. Bentuk cinta dapat kita wujudkan dalam berbagai rupa tanpa batas ruang dan waktu dan kepada siapa atau apa saja asalkan semuanya bersumber dari kecintaan kita kepada Allah SWT dan karena menggapai ridha-Nya.