Hati

 Renungan menyambut bulan suci Ramadhan 1438 H

HATI
KH. Anwar Sanusi *
Hati adalah sebuah kata yang hanya terdiri dari empat huruf. Namun apabila kita menyebutnya, akan menimbulkan kekaguman yang luar biasa. Hati adalah khalifah Allah dalam diri manusia. Hati selalu benar, hati tidak pernah berbohong, hati tidak mengenal kalimat-kalimat dusta, hati akan selalu memancarkan cahaya keindahan. Namun pada saat nafsu-nafsu syaitaniyah merajalela, hati kita akan terkontaminasi oleh hal-hal yang tidak baik. Cahaya hati yang sering kali disebut dengan kata-kata NURANI tidak akan terpancar dari orang-orang yang hatinya kelabu. Pancaran nurani hanya akan lahir dari orang-orang yang menumbuhkan sifat-sifat Allah dalam dirinya.
Islam tidak pernah mengajarkan kita membuang hawa nafsu jauh-jauh. Islam mengajarkan agar hawa nafsu yang timbul harus kita arahkan kepada al-muthmai’nnah. Karena nafsu inilah yang dapat menanggalkan jubah-jubah ketakaburan, sifat-sifat keakuan, sifat hasad dan segala sifat yang menjadikan dirinya su’u al-adab dan kalau sudah demikian, masyarakat akan membenci kepribadiannya.
Apabila kita melakukan perbuatan maksiat, percayalah hidup kita tidak akan tenang. Karena sebenarnya hati tidak akan mungkin dapat menerima kemaksiatan. apabila kita berbuat maksiat, berarti kita sedang mengikuti setan-setan yang sedang menari dihati kita.
Siapa saja diantara kita yang bermandi ambisi, yang politiknya ditutupi oleh kain-kain busuk, yang akhlaqnya membangunkan bulu roma orang, yang hartanya diperoleh dengan cara-cara curang. Hentikanlah sampai disini. Karena perbuatan itu akan menyebabkan hati kehilangan nurani. Hati akan menjadi hitam pekat, tidak mengerti lagi kemana tujuan hidup yang harus ditempuh. Simak QS Al-An`am ayat 116 :
” Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang dimuka bumi, niscaya akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanya berdusta (terhadap Allah SWT) “.
Baginda Rasulullah SAW selalu berpesan agar umatnya selalu menjaga kebersihan hati. Menjauhkan diri dari sifat-sifat muzabzab (oportunis). Rasulullah bersabda :
” Janganlah kamu menjadi orang Imma’ah, apakah imma’ah itu ya Rasulullah ? Rasul menjawab : ” Saya pokoknya mengikuti banyak orang, jika mereka berbuat baik, maka saya akan berbuat baik, jika mereka berbuat jahat, saya ikuti pula perbuatan itu “. Selanjutnya pesan Rasul : ” Mantapkanlah dirimu, jika orang berbuat baik, hendaklah turut kebaikan mereka, tetapi jika mereka berbuat jahat, hendaklah menjauhi kejahatan mereka “.
Mari kita simak salah satu surat cinta dari Allah yang telah menuntun kita dengan cara yang amat sangat bijaksana (QS Al-Isra’ ayat 36 ) :
” Dan janganlah mengikuti apa-apa yang tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban-Nya “.
Wajah dan perbuatan manusia adalah gubahan dari hatinya. Kalau hati baik akan baik pulalah segala amalnya. Sebaliknya apabila hati buruk, akan buruk pulalah segala tindak tanduknya.
” Ya Allah yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami bersama agama-Mu yang Agung “. Demikianlah Rasulullah mengajarkan salah satu do’anya kepada kita. Wallahu A`lam.
*) Pimpinan Pesantren Lembah Arafah.

Leave a Reply