Bersyukur

mawar-putih.jpgDalam kehidupan ini banyak sekali peristiwa-peristiwa yang kita alami… ada  peristiwa yang membuat hati kita bahagia…dan ada pula yang membuat hati kita pilu dan ‘nelangsa’. Biasanya yang membuat hati bahagia adalah apabila sesuai dengan keinginan/hati nurani kita sedangkan yang membuat hati sedih jika tidak sesuai dengan keinginan/hati nurani kita.

Padahal pandangan Allah SWT lebih luas dibandingkan dengan pandangan manusia. Terkadang yang baik menurut pandangan manusia belum tentu baik menurut pandangan Allah SWT. Dan yang buruk menurut pandangan manusia belum tentu buruk menurut pandangan Allah SWT. Bisa jadi yang baik menurut pandangan manusia ternyata buruk menurut pandangan Allah SWT dan sebaliknya yang buruk menurut pandangan manusia bisa jadi itu lah yang baik menurut pandangan Allah SWT. Semua itu pasti ada hikmahnya…

Manusia berusaha lewat lantunan do’a dan ikhtiar … hasilnya kita serahkan pada Allah SWT.

La Haula Wala Quwwata Illa Billah…

Belajar dari kupu-kupu

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Dia duduk dan mengamati selama beberapa jam kupu-kupu dalam kepompong itu ketika dia berjuang memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.

Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun,… dia mempunyai tubuh yang gembung dan kecil, serta sayap-sayap yang mengerut. Orang tersebut terus mengamatinya, karena dia berharap bahwa pada suatu saat, sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya. Sayang, semuanya tak pernah terjadi… Continue reading

Belajar dalam diam

Orang bijak berkata: “Kebenaran itu bukan untuk dipelajari, melainkan ditemukan.” Pertanyaannya adalah: “Di mana mencarinya?” Jawabnya: “Di dalam diam… ” Sebab, di dalam diam itu kita bisa berbicara dengan hati. Hati itu merupakan teleskop dari jiwa, sedangkan mata merupakan teleskop dari hati.

Alkisah  Nasrudin mencari jarum di halaman rumahnya. Berjam-jam dia mencari jarum yang hilang itu hingga membuat seluruh tetangganya tergerak.Ramai-ramai mereka ikut sibuk membantu Nasrudin, tapi jarum yang dicari tidak ditemukan. Seperti lenyap tertelan bumi.

Namun, ada seorang yang diam, yang hanya memperhatikan polah tingkah mereka. Lama-lama orang ini mendekati Nasrudin dan bertanya: “Anda mencari apa?” Jarum yang hilang. “Di mana jarum itu terjatuh ?” Nasrudin menjawab: “Di dalam rumah.” Mengapa mencari di halaman rumah? “Ya, di dalam rumah gelap, tapi di halaman ini terang.” Continue reading