Indahnya sebuah proses

“ Anakku ayo ikut ibu…, ibu akan menunjukkan sesuatu kepadamu ”, lalu sang ibu menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang…
Sang anak pun mulai mengeluh ” …ibu mau kemana kita ? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri… badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah karena ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ibu…” sang ibu hanya diam. Continue reading

Membentuk mental berkarakter untuk menuju manusia merdeka

Penulis: Ki Hajar Dewantara
Penerbit: Leutika Books, Jakarta, Juni 2010
Halaman: xi + 220 halaman
Ki Hajar Dewantara Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889.Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara.
 Suatu kata-kata yang prinsipil Ki Hadjar Dewantara adalah  slogan yang sudah sangat dekat di telinga kita, “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” dimana guru berkewajiban mendampingi peserta didik, baik di depannya untuk menjadi teladan, di tengah untuk memahami dan menyertai, serta di belakang untuk mendorong dan memotivasi. Continue reading

Mengenal tingkatan hati

Abu Nawas adalah seorang ulama yang alim.
Tak begitu mengherankan jika Abu Nawas mempunyai murid yang tidak sedikit.
Diantara sekian banyak muridnya, ada satu orang yang hampir selalu menanyakan mengapa Abu Nawas mengatakan begini dan begitu. Suatu ketika ada tiga orang tamu bertanya kepada Abu Nawas dengan pertanyaan yang sama.
Orang pertama mulai bertanya
“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?
“Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil.” jawab Abu Nawas.
“Mengapa?” kata orang pertama
“Sebab lebih mudah diampuni oleh  Allah swt.” kata Abu Nawas
Orang pertama puas karena ia memang yakin begitu.
Orang kedua bertanya dengan pertanyaan yang sama. “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil ?
“Orang yang tidak mengerjakan keduanya.” jawab Abu Nawas.
“Mengapa?” kata orang kedua
“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Allah swt.” kata Abu Nawas. Orang kedua langsung bisa mencerna jawaban Abu Nawas. Continue reading