Anak belajar dari kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah.
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mengasihi.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi.
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan.
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan kasih dalam kehidupan.
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar damai dengan pikiran.
by Dorothy Law Nolte.

4 thoughts on “Anak belajar dari kehidupannya

  1. kalau saya dibesarkan dengan penuh kebebasan
    jadinya sekarang…saya sering berbuat kesalahan tapi saya segera sadar bahwa saya salah
    sering saya tidak bisa keluar dari kesalahan tapi saya selalu berusaha mengendalikan diri untuk tidak semakin jauh dalam berbuat kesalahan karena saya tau kalau saya harus mempertanggungjawabkan semua kebebasan yang telah diberikan kepada saya :)

    • Orangtua itu paling tahu “jiwa” anaknya…
      Beliau paling tahu bagaimana menerapkan sistem pendidikan yang terbaik bagi anaknya… ( karena sifat/karakter anak itu tidak jauh berbeda dengan orangtua… :) )
      Bersyukur sekali… mendapatkan pendidikan yang “bebas tapi bertanggungjawab”…

Leave a Reply